Daftar Isi Menurut Kategori

Showing posts with label Dunia Unik. Show all posts
Showing posts with label Dunia Unik. Show all posts

Tuesday, February 3, 2015

Legenda Manusia Berumur 256 Tahun


"Jagalah agar hatimu tetap tenang, duduklah seperti kura-kura, berjalanlah dengan riang seperti merpati dan tidurlah seperti seekor anjing." Itulah kalimat nasehat yang diberikan oleh Li Chung Yun ketika seorang kepala suku bernama Wu Pu Fei mengundangnya ke rumah dan menanyakan rahasia umur panjang. Li Chung Yun meninggal pada tanggal 6 Mei 1933. Saat itu usianya 256 tahun.

Mr Li tinggal di propinsi Sichuan di Cina dimana umur panjang melambangkan kebesaran seseorang. Pada saat usianya 10 tahun, ia sudah berkelana ke Kansu, Shansi, Tibet, Annam, Siam dan Manchuria untuk mengumpulkan tanaman obat. Ia terus mengumpulkan tanaman obat hingga berumur 100 tahun.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Mr.Li telah menguburkan 23 Istri dan pada saat meninggalnya ia hidup bersama istri ke 24. Dari ke-24 istrinya, Li memiliki anak cucu hingga 11 generasi dan berjumlah sekitar 200 orang. Ia memiliki kuku yang panjang sekitar 6 inci. Walapun usianya sudah 200 tahun lebih, namun dalam pandangan orang-orang ia kelihatan seperti seseorang yang berusia 60 tahun-an.

Menurut Mr. Li, ia lahir tahun 1736. Namun pada tahun 1930, seorang profesor dari departemen pendidikan universitas Chengdu yang bernama Wu Chung Chieh menemukan sebuah catatan dari kerajaan Cina yang memberikan ucapan selamat kepada Li Ching Yun atas ulang tahunnya yang ke-150 tahun. Ucapan selamat itu diberikan pada tahun 1827. Apabila pada tahun 1827 ia berulang tahun ke-150, maka itu berarti catatan kerajaan menunjukkan bahwa Mr. Li lahir pada tahun 1677 dan saat meninggal di tahun 1933, ia berumur 256 tahun.

Pada saat kematiannya, ucapan dukacita untuk Mr.Li dipublikasikan oleh media-media ternama dunia, termasuk The New York Times dan Times Magazine.

Apakah Li lahir tahun 1677 atau 1736 seperti pengakuannya ? Apabila ia lahir tahun 1736 sesuai pengakuannya, berarti ia meninggal pada usia 197 tahun, jauh lebih lama dibandingkan dengan orang tertua yang pernah tercatat yaitu Jeanne Louise Calment dari Perancis yang meninggal pada tahun 1997 di usia 122 tahun 164 hari. Sebelumnya, di Cina juga pernah tercatat adanya seorang yang bernama Chen Jun yang dipercaya meninggal pada usia 443 tahun.

Selama hidupnya, Mr Li dikenal sebagai seorang Herbalis dan ahli kungfu. Pada tahun 1749 ketika ia berumur 71 tahun, ia pindah ke kota Kai Xian untuk bergabung dengan pasukan Cina sebagai pelatih kungfu dan penasehat militer.

Kisah hidupnya kemudian mengalir seperti sebuah kisah dari film-film silat yang kita tonton. Salah seorang murid Mr. Li, yaitu Master Tai Chi bernama Da Liu menceritakan kisah ini. Pada saat Mr. Li berusia 130 tahun, ia berjumpa dengan seorang pertapa di sebuah gunung yang kemudian mengajarinya Jiulong Baguazhang (sembilan naga delapan diagram telapak tangan) dan Qigong (tenaga dalam) dengan instruksi pernapasan khusus, pergerakan dan cara mengkordinasikannya dengan suara spesifik serta rekomendasi makanan. Da Liu mengatakan bahwa Mr.Li dapat memiliki umur panjang karena ia secara teratur melakukan latihan-latihan tersebut setiap hari, secara teratur, dengan benar dan dengan tulus selama 120 tahun. Sampai saat ini, para praktisi Jiulong Baguazhang modern mengakui bahwa pengetahuan yang mereka peroleh berasal langsung dari Mr. Li.

Pada tahun 1933, ia meninggal dunia. Mr li pernah berkata kepada seorang sahabat,"Aku telah menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan di dunia ini, sekarang aku akan pulang." Li Chung Yun meninggal tidak lama setelah itu. Dan sejak itu muncullah Legenda Li Chung Yun, Manusia yang berumur 256 tahun.
..Selanjutnya...

Monday, September 6, 2010

Tau kah Sobat, Di Indonesia ada 742 Bahasa Lho...

17 Agustus 2008 kemarin, Republik Indonesia genap berusia 63 tahun. Sepanjang masa itu pula, nusantara yang konon terdiri dari sekitar 17 ribu pulau tumbuh dalam keberagaman. Suku, agama, ras, budaya dan juga bahasa. Mungkin susah mencari tandingannya di seluruh muka bumi ini dalam hal keberagaman.
Pluralisme itu, mungkin, adalah kekuatan sekaligus lem perekat republik ini dalam berbangsa. Lihatlah, rakyat Indonesia ada yang berkulit kuning, cokelat, bahkan yang hitam legam. Semua tumbuh bersama.
Memang harus diakui, dalam perjalanannya, Indonesia juga diwarnai kerusuhan antarkaum, antaragama, dan antar strata sosial ekonomi. Tapi itu tidak pula mampu meretakkan bangunan republik ini sebagai negara kesatuan. Bhineka Tunggal Ika.


28 Oktober 1928, pemuda Indonesia telah memaklumkan tekadnya yang bertajuk ‘sumpah pemuda’, yang salah satunya adalah kesepakatan untuk menggunakan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Tapi itu bukan bermakna, rakyat Indonesia tidak boleh menggunakan bahasa lain. Di persada nusantara ini ada 742 bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk tempatan. Orang Jawa bercakap menggunakan bahasa Jawa, orang Sunda bertutur dengan bahasa sunda, orang Padang berbincang dengan bahasa Minang.
240 juta penduduk dengan 742 bahasa. Hebat! Apakah selama ini ada diantara kita yang peduli pasal ini? Bahasa apa saja itu? Adakah diantara kita yang ‘care’ untuk mempelajari dan membuat dokumentasi masalah bahasa asli Indonesia ini? Para ahli bahasa mungkin paham pasal jumlah dan wilayah sebarannya. Tetapi apakah mereka sudah melakukan penelitian dan mendokumentasikannya secara ilmiah?
Dari 742 bahasa itu, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, hanya ada 13 bahasa yang pemakainya lebih dari 1 juta orang. Maknanya ada 729 bahasa yang hanya dipakai oleh penduduk tempatan yang jumlahnya kurang dari 1 juta. Malah 169 bahasa diantaranya hanya digunakan oleh kurang dari 500 orang, atau mungkin dalam bahasa sederhananya boleh dikatakan bahasa itu hanya dipakai oleh penduduk sekampung.
Bahasa-bahasa itu, tentu saja, terancam punah jika pemerintah dan kita semua tidak peduli. Bahkan ia bisa punah tanpa catatan sejarah jika tak ada dokumentasi akademiknya.


Bahasa yang terancam punah itu, menurut pakar Departemen Linguistik Universitas Indonesia, Multamia RMT Lauder, tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua. Bahasa ‘Lom’ di Sumatera, misalnya, hanya digunakan oleh sekitar 50 orang. Sementara bahasa ‘budong-budong’ di Sulawesi hanya dipakai sekitar 70 orang, bahasa ‘’dampal’ dipakai oleh 90 penduduk, ‘bahonsai’ oleh 200 orang, ‘baras’ oleh 250 orang.
Gawatnya lagi, ada bahasa yang hanya digunakan oleh 1 hingga 3 orang saja. Wah, saya sampai tak bisa membayangkan. Dalam hitungan hari atau bulan bahasa itu akan hilang dari sejarah. Bahasa ‘hukumina’ di Maluku, konon, hanya dipakai oleh 1 orang. Loh, jadi, bahasa ini dipakai berbincang dengan siapa?
Masih di Maluku, bahasa ‘kayeli’ menurut catatan hanya dipakai oleh 3 penduduk, sementara bahasa ‘kaela’ digunakan oleh 5 penduduk, ‘hoti’ oleh 10 penduduk, ’hulung’ oleh 10 orang. Setali tiga uang, alias sama saja kondisinya, di Papua, dulu Irian Jaya, bahasa ‘mapia’ juga hanya digunakan oleh 1 orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.
Tentu saja masih banyak lagi bahasa-bahasa lain yang keberadaannya tidak dikenali. Mungkin jumlah bahasa di negeri ini lebih dari sejuta. Siapa yang tahu? Apalagi menurut Multamia, banyak diantara bahasa-bahasa yang hanya digunakan oleh sedikit orang itu adalah bahasa yang tidak mempunyai tulisan.
Mencermati situasi ini, saya menjadi tergelitik untuk membuat dokumentasinya, tentu saja yang sesuai dengan bidang yang saya pahami, yaitu audio visual. Saya ingin mendokumentasikan bahasa-bahasa daerah itu dalam bentuk filem dokumenter. Mungkin sepotong-sepotong, kemana pun saya pergi saya akan mengumpulkan percakapan orang-orang tempatan menggunakan bahasa aslinya. Mungkin itu hanya akan menjadi koleksi pribadi, yang akan memenuhi video library saya, tapi saya percaya suatu saat nanti itu akan bermanfaat.
Kalau bukan kita yang peduli dan memulainya, siapa lagi yang kita harapkan?
Didik Budiarto


sumber :

www.srri.wordpress.com www.azhali.blogsome.com www.untukindonesia.blogwae.com www.didikbudiarto.files.wordpress.com

..Selanjutnya...